Tutup nya toko Buku! Hilangnya Pula Salah Satu Sumber Ilmu Pengetahuan.


Toko buku Pustaka Paddiisseneng


Hari- hari ini dunia sosial lagi ramai dengan kabar tentang rencana tutupnya Toko Novel Toga Mas Solo. Dari kabar yang terdapat disebutkan kalau Toga Mas Solo hendak tutup, baik online ataupun offline, mulai Juli 2022.


Banyak yang menyayangkan rencana ini. Bermacam pendapat timbul. Analisis pula dicoba dari bermacam sudut pandang. Tetapi aku kira itu tidak hendak mengganti kondisi. Ramai diperbincangkan ataupun tidak, satu demi satu toko novel nyatanya hendak berguguran. Sangat banyak aspek yang tidak menunjang eksistensi toko novel di masa saat ini ini.


Rencana tutupnya Toga Mas Solo menaikkan panjang catatan Toko Novel Toga Mas yang wajib gulung tikar. Walaupun tidak seramai rencana penutupan di Solo, aku merasakan aura kesedihan dikala Toko Novel Toga Mas Tulungagung wajib gulung tikar pada Maret 2022. Bersumber pada pengumuman di Instagram serta pula pengumuman yang ditempel di toko, Toko Novel Toga Mas Tulungagung tutup permanen mulai 21 Maret 2022. Para pelanggan ditunjukan buat berbelanja ke Toga Mas Kediri. Sementara itu inilah salah satunya toko novel yang bagi aku lumayan representatif di Tulungagung serta sekitarnya.


Gugurnya satu demi satu toko novel di bermacam wilayah sebetulnya mewartakan kepedihan. Ya, toko novel nyatanya tidak hendak sanggup bertahan lagi. Cuma soal waktu saja. Saat ini kita yang menyayangi dunia literasi berharap takut toko mana lagi yang hendak tutup.


Fenomena ini menimbulkan sebagian bahan renungan untuk kita bersama. Awal, masa depan toko novel, spesialnya yang offline, suram. Dapat jadi ini sebab serangan pergantian di era digital. Orang saat ini tidak lagi mengandalkan novel cetak selaku bahan teks. Nyatanya hadirnya novel digital jadi opsi.


Kedua, fenomena ini menandai keroposnya peradaban kita. Peradaban yang kuat diisyarati oleh tradisi membaca serta menulis yang mapan. Warga yang kokoh membaca serta menulis hendak mempunyai sudut pandang yang kaya. Tidak hanya itu pula mempunyai modal yang mapan buat mengalami pergantian.


Riuh rendahnya dunia digital dengan pertengkaran yang kurang bermutu saat ini ini dapat jadi sebab tidak dimilikinya basis pengetahuan serta sudut pandang yang mapan. Bila pengetahuannya mapan hingga tenaga positif yang dipunyai hendak dipergunakan buat memperkaya kehidupan. Pelajaran hidup hendak memperkaya, bukan menista.


Kenapa toko novel itu berarti? Pasti terdapat banyak alibi. Salah satunya merupakan penopang budaya membaca. Membaca itu basis untuk kemajuan suatu bangsa. Perihal ini sejalan dengan komentar Alfons Taryadi yang menulis" Pengantar" pada novel klasik bertajuk Novel dalam Indonesia Baru( Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999). Alfons Taryadi menulis kalau novel itu bukan cuma jendela dunia. Di dalam novel terdapat hidup serta kehidupan itu sendiri. Membaca yang dicoba secara intensif jadi modal utama menulis. Keduanya ialah rangkaian yang silih berkait- kelindan. Keahlian membaca- menulis dibayangkan oleh Alfons Taryadi selaku basis untuk warga Indonesia baru.


Idealitas Alfons Taryadi nyatanya bertepuk sebelah tangan. Pelan tetapi tentu tradisi membaca serta menulis tergerus oleh arus pergantian yang dahsyat. Generasi muda saat ini ialah generasi baru yang tidak akrab dengan novel cetak. Mereka akrab dengan hal- hal yang serba digital. Aku kira ini yang jadi salah satu karena kenapa satu demi satu toko novel berguguran.


Kala aku mengunggah status tentang tutupnya Toko Novel Toga Mas Tulungagung di FB serta Instagram, asumsi kawan- kawan sangat bermacam- macam. Aku mau merangkum asumsi dalam sebagian jenis. Awal, merasakan kesedihan mendalam. Bagaimanapun pula, toko novel merupakan penyangga budaya membaca serta menulis. Bila toko novel tutup berarti fenomena literasi mengalami masa depan suram.


" Kiamat dunia perbukuan.... tanda- tanda semangat membaca serta berfikir mendalam serta sungguh- sungguh sudah habis umur", tulis seseorang kawan. Aku menguasai kegelisahannya sebab tutupnya toko novel indikator sungguh- sungguh terus menjadi sedikitnya orang yang menekuni membaca novel cetak.


Kedua, menguasai fenomena ini selaku bagian dari dinamika era. Dalam Bahasa Jawa fenomena ini diistilahkan dengan wolak- walike era. Saat ini ini tugas kita bukan meratapi kenyataan namun melaksanakan usaha- usaha kreatif supaya membaca- menulis senantiasa berkembang serta tumbuh. Tutupnya toko novel memanglah menyedihkan namun bukan kiamat. Masih banyak perihal positif- kreatif yang dapat dicoba.


Fenomena meredupnya atensi terhadap novel cetak serta tutupnya toko novel bukan cuma terjalin di Indonesia. Data yang terdapat mengatakan kalau toko novel di bermacam negara--- salah satunya Singapura--- juga hadapi kebangkrutan.


Ketiga, warga kita saat ini ini tidak lagi menjadikan novel selaku sumber utama ilmu pengetahuan. Hadirnya internet sudah sediakan sumber ilmu yang bermacam- macam serta menarik. Malah ini jadi tantangan buat menjadikan novel cetak senantiasa mempunyai peminat. Bila juga tidak tertarik terhadap novel cetak, paling tidak mereka mempunyai tradisi membaca. Bukunya pula tidak wajib novel cetak. Kita wajib menyadari kalau generasi milenial serta generasi Z lebih aman membaca novel digital.


Senjakala novel cetak sudah tiba. Ini ialah kenyataan yang tidak dapat ditolak. Memanglah pilu namun kita wajib melaksanakan Langkah- langkah kreatif- konstruktif supaya membaca- menulis jadi budaya. Perkara mengenakan novel cetak ataupun e- book, itu perkara teknis. Substansinya literasi wajib membumi supaya peradaban kita tidak kehabisan jati diri.


Makassar, 11 Desember 2022


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Cara Membiasakan diri untuk membaca?

Alasan Ilmiah dan Filosofis kenapa harus membaca buku